1.
Konsep Blended Learning
Konsep Blended Learning merupakan istilah yang baru dan mengikuti
perkembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan
manusia, blended learning istilah yang berasaln dari bahasa Inggris dan terdiri
dari dua suku kata yaitu: blended dan learning. Dalam bahasa Indonesia dapat
diartikan sebagai pembelajaran kombinasi, pembelajaran gabungan, atau
pembelajaran bauran, sehingga blended learning dapat dimaknai sebagai gabungan
pembelajaran secara tatap muka dengan secara virtual dengan menggunakan
aplikasi TIK.
Semler (2005) mengatakan bahwa : "blended leraning mengombinasikan
aspek terbaik dari pembelajaran online, aktivitas tatap muka terstruktur , dan
praktik dunia nyata. Sistem pembelejaran online, latihan di kelas, dan
pengalaman on-the-job akan memberikan pengalaman berharga bagi diri
mereka. Blended learning menggunakan pendekatan yang memberdayakan berbagai
sumber informasi yang lain".Berdasarkan ungkapan Semler maka blended
learning dapat diaplikasikan kedalam pelaksanaan pembelajaran dengan dua model
pembelajaran, yaitu:
- Peningkatan aktivitas tatap muka (face-to-face), bentuk pertama ini dilaksanakan dalam model tatap muka akan tetapi terjadi peningkatan aktivitas belajar dan mengajar oleh guru dan siswa dengan memanfaatkan jejaring teknologi informasi dan komunikasi, jejaring web, memanfaatkan e-learning, web online, blog, dan sebagainya.
- Pembelajaran campuran (hybrid learning), memadukan pembelajaran tatap muka di kelas dengan pembelajaran secara online. Model ini mengurangi aktivitas tatap muka di kelas sebagai akibat pengurangan aktivitas tatap muka dialihkan kedalam model pembelajaran secara online dengan memanfaatkan TIK.
Salah satu hal yang menarik dengan penerapan model
pembelajaran kombinasi (blended learning) adalah tercapainya tujuan
pembelajaran secara efisien dan efektif karena kedua model memiliki keunggulan
masing-masing. Model pembelajaran tatap muka dengan metode konvensional
memungkinkan pembelajaran berlangsung secara interaktif dengan menggunakan
berbagai pendekatan, strategi serta metode pembelajaran sedangkan dengan metode
online dapat memberikan materi secara online tanpa batasan ruang dan waktu,
selain itu peserta didik lebih banyak memperoleh dan mengolah informasi dari
berbagai sumber sehingga hal ini dapat menunjang proses pembelajaran
2.
Karakteristik Blended Learning
Penerapan blended learning tidak terjadi begitu saja. Tapi, terlebih dulu
harus ada pertimbangan karakteristik tujuan pembelajaran yang ingin kita capai,
aktifitas pembelajaran yang relevan serta memilih dan menentukan aktifitas mana
yang relevan dengan konvensional dan aktifitas mana yang relevan untuk online
learning.
Karakteristik Blended
learning
Adapun
karakteristik dari blended learning yaitu:
1. Pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara
penyampaian, model pengajaran, gaya pembelajaran, serta berbagai media berbasis
teknologi yang beragam.
2. Sebagai sebuah kombinasi pengajaran
langsung (face to face), belajar mandiri, dan belajar mandiri via online.
3. Pembelajaran yang didukung oleh
kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar dan gaya pembelajaran.
4. Guru dan orangtua pembelajar
memiliki peran yang sama penting, guru sebagai fasilitator, dan orangtua
sebagai pendukung.
Intinya Blended e-Learning berisi tatap muka, dimana
beririsan dengan blended e-learning. pada blended e-learning terdapat
pembelajaran berbasis komputer yang berisikan dengan pembelajaran online. Dalam
pembelajaran online terdapat pembelajaran berbasis internet yang di dalamnya
ada pembelajaran berbasis web. Pembelajaran dengan menggunakan media berbasis
yang populer dengan sebutan Web-Based Training (WBT) kadang disebut Web-Based
Education (WBE) dapat didefinisikan sebagai aplikasi teknologi web dalam dunia
pembelajaran untuk sebuah proses pendidikan. Suatu hal yang perlu diingat
adalah bagaimana teknologi web ini dapat mebantu proses belajar.
Pada
blended learning informasi yang di dapat oleh peserta didik lebih banyak dan
dari berbagai sumber. Dengan mendapat informasi yang lebih mereka mampu
menyelesaikan permasalahan, menganalisis, membandingkan dengan kecukupan
informasi yang mereka dapat. Informasi atau materi yang ada dalam pembelajaran
online antara lain dalam bentuk, teks, gambar, movie, animasi, simulasi,
partisi- pasi dalam diskusi, dan mengemukakan pendapat.
3.
Penerapan Blended e-Learning
Rosenberg (2001) menekankan bahwa blended
e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan
serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal
ini senada dengan Cambell (2002), kamarga (2002) yang intinya menekankan
penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakekat blended e-learning,
termasuk untuk pendidikan guru. Secara spesifik dalam pendidikan guru blended
e-learning memiliki makna sebagai berikut.
1.
Blended e-learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan,
pelatihan-pelatihan tentang materi keguruan baik substansi materi pelajaran
maupun ilmu pendidikan secara online.
2. Blended e-learning menyediakan seperangkat
alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model
belajarkonvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan latihan berbasis
komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi.
3. Blended e-learning tidak berarti
menggantikan model belajar konvesional di dalam kelas, tetapi memperkuat model
belajar tersebut melaluipengayaan content dan pengembangan teknologi
pendidikan.
4. Kapasitas guru amat bervariasi tergantung
pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antarconten dan
alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang
pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik.
5. Memanfaatakan jasa teknologi elektronik;
di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat
berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang
protokoler.
6. Memanfaatkan keunggulan komputer (digital
media dan komputer networks).
7. Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri
(self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru
dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya.
8. Memanfaatkan jadwal pembelajaran,
kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan
administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
Pendapat Haughey (1998) tentang pengembangan blended e-learning
mengungkapkan bahwa terdapat tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem
pembelajaran berbasis internet, yaitu:
1. Web course adalah penggunaan internet
untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya
terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka.
2. Web centric course adalah penggunaan
internet yang memadukan antar belajar jarak jauh dan tatap muka (konvesional).
3. Model web enhanced course adalah
pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang
dilakukan di kelas.
Ada tiga hal dampak positif penggunaan internet dalam pendidikan yaitu: (1)
peserta didik dapat dengan mudah mengambil mata kuliah di mana pun di seluruh
dunia tanpa batas intuisi atau batas negara. (2) peserta didik dapat dengan
mudah belajar pada para ahli di bidang yang diminatinya. (3) kuliah/belajar
dapat dengan mudah diambil diberbagai penjuru dunia tanpa bergantung pada
universitas/sekolah tempat si mahasiswa belajar.
4.
Prosedur Blended Learning dalam Pembelajaran
Secara spesifik dalam jurnal yang berjudul Pengaruh
Blended Learning terhadap Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Siswa
Tingkat SMK Profesor Steve Slemer menyarankan enam tahapan dalam merancang dan
menyelenggarakan blended learning agar hasilnya optimal, diantaranya adalah (1)
tetapkan macam dan materi bahan ajar, (2) tetapkan rancangan blended learning
yang digunakan, (3) tetapkan format on-line learning, (4) lakukan uji terhadap
rancangan yang dibuat, (5) selenggarakan blended learning dengan baik, dan (6)
siapkan kriteria evaluasi pelaksanaan blended learning (Sjukur, 2012).
Pertama, menetapkan macam dan materi
bahan ajar. Pendidik harus paham betul bahan ajar yang seperti apa yang relevan
diterapkan pada pendidikan jarak jauh (PJJ) yang sebagian dilakukan secara face
to face dan secara online atau web based learning.
Kedua, tetapkan rancangan dari blended learning
yang digunakan. Rancangan pembelajaran harus benar-benar dirancang dengan baik
dan serius, dan juga harus melibatkan ahli e-learning untuk membantu.
Hal ini bertujuan agar rancangan pembelajaran yang dibuat benar-benar relevan
dan memudahkan sistem pembelajaran face to face dan jarak jauh, bukan
malah mempersulit siswa ataupun tenaga kependidikan lainnya dalam
penyelenggarakan pendidikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat
rancangan pembelajaran blended learning adalah (a) bagaimana bahan ajar
tersebut disajikan, (b) bahan ajar mana yang bersifat wajib dipelajari dan mana
yang sifatnya anjuran guna memperkaya pengetahuan, (c) bagaimana siswa bias
mengakses dua komponen pembelajaran tersebu, (d) faktor pendukung apa yang
diperlukan, misalnya software apa yang digunakan, apakah diperlukan
kerja kelompok atau individu saja.
Ketiga, tetapkan format online learning. Apakah
bahan ajar tersedia dalam format PDF, video, juga perlu adanya pemberitahuan
hosting apa yang dipakai oleh guru, apakah Yahoo, Google, Facebook, atau
lainnya.
Keempat, melakukan uji terhadap
rancangan yang dibuat. Uji ini dilakukan agar mengetahui apakah sistem
pembelajaran ini sudah berjalan dengan baik atau belum. Mulai dari kefektivan
dan keefesiensi sangat diperhatikan, apakah justru mempersulit siswa dan guru
atau bahkan benar-benar mempermudah pembelajaran.
Kelima, menyelenggarakan blended learning dengan baik.
Sebelumnya sudah ada sosialisasi dari guru atau dosen mengenai system ini.
Mulai dari pengenalan tugas masing-masing komponen pendidikan, cara akses
terhadap bahan ajar, dan lain-lain. Guru atau dosen disini bertugas sebagai
petugas promosi, karena yang mengikuti penyelenggaraan blended learning bias
dari pihak sendiri dan bahkan dari pihak lain.
Keenam, menyiapkan kriteria untuk
melakukan evaluasi. Contoh evaluasi yang dilakukan adalah dengan (a) Ease to
navigate, (b) Content/substance, (c) Layout/format/appearance, (d) Interest,
(e) Applicability, (f) Cost-effectiveness/value.
Ease to navigate, seberapa mudah siswa bisa
mengakses semua informasi yang disediakan di paket pembelajaran. Kriterianya,
makin mudah melakukan akses, makin baik.
Content/substance, bagaimana kualitas isi yang
dipakai. Misalnya bagaimana petunjuk mempelajari bahan ajar itu disiapkan, dan
sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran, dan sebagainya. Kriterianya: makin
mendekati isi bahan ajar dengan tujuan pembelajaran adalah makin baik.
Layout/format/appearance, paket
pembelajaran (bahan, petunjuk, atau informasi lainnya) disajikan secara
profesional. Kriterianya: makin baik penyajian bahan ajar adalah makin baik.
Interest, dalam artian sampai seberapa
besar paket pembelajaran yang disajikan mampu menimbulkan daya tarik siswa
untuk belajar. Kriterianya: siswa semakin tertarik belajar adalah makin baik.
Applicability, seberapa jauh paket
pembelajaran yang bisa dipraktekkan secara mudah. Kriterianya: makin mudah
adalah makin baik.
Cost-effectiveness/value, seberapa
murah biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti paket pembelajaran tersebut.
Kriterianya: semakin murah semakin baik.
DAFTAR PUSTAKA :