PEMBELAJARAN MELALUI MEDIA TELEVISI ATAU VIDEO
1. Konsep media
pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin
merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara”
atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima
pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm
(1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan
yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs
(1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk
menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan
sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa
media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar,
termasuk teknologi perangkat keras (Arief S. Sadiman dkk, 2006: 6-7). Dari
ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala
sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan
kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada
diri peserta didik.
Dalam pengertian teknologi
pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari
sistem pembelajaran di samping pesan, orang, teknik latar dan peralatan.
Pengertian media ini masih sering dikacaukan dengan peralatan. Media atau bahan
adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang
biasanya disajikan dengan menggunakan peralatan. Peralatan atau perangkat keras
(hardware) merupakan saana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada
media tersebut (Arief S. Sadiman dkk, 2006: 19). Jadi, media terdiri atas dua
unsur yaitu perangkat keras (hardware) atau alat dan perangkat lunak (software)
atau bahan. Transparansi, program video adalah software atau bahan. Software
atau bahan tersebut hanya bisa disajikan jika tersedia alatnya, yaitu OHP,
video player.
Agar lebih jelas lagi perlu juga
dikemukakan konsep lain yang sangat berkaitan dengan media pembelajaran, yaitu
sumber belajar. Konsep sumber belajar memiliki cakupan yang lebih luas, yaitu
semua sumber (baik berupa data, orang, benda) yang dapat digunakan untuk
memberi fasilitas/kemudahan belajar bagi peserta didik.
Sumber
belajar meliputi POBATEL:
1. Pesan (ide, fakta, data, ajaran,
informasi, dll)
2. Orang (guru, dosen, instruktur,
widyaiswara, dll)
3. Bahan (buku teks, modul, transparansi,
kaset program audio, film, program CAI/CBI.
4. Alat (OHP, komputer, tape recorder, CD
player, dll)
5. Teknik (praktikum, demonstrasi, diskusi,
tutorial, pembelajaran mandiri, dll)
6. Lingkungan (gedung sekolah, kebun, pasar,
dll)
Apa pula bedanya dengan alat peraga,
dan alat bantu pembelajaran? Pada dasarnya keduanya termasuk dalam media,
karena konsep media merupakan perkembangan lebih lanjut dari konsep-konsep
tersebut. Alat peraga adalah alat atau benda yang digunakan untuk memperagakan
fakta, konsep, prinsip atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata/konkret.
Alat bantu adalah alat/benda yang digunakan oleh guru untuk mempermudah tugas
dalam mengajar.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa
media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat
mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media
pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang
digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke –20 usaha
pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah
alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat
bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti
adanya komputer dan internet.
2. Pengertian
dan Fungsi Televisi
Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai
penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi" merupakan gabungan dari kata tele (τῆλε, "jauh") dari bahasa Yunani dan visio ("penglihatan") dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat diartikan
sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.”
Penggunaan kata
"Televisi" sendiri juga dapat merujuk kepada "kotak televisi", "acara televisi", ataupun "transmisi televisi". Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia
'televisi' secara tidak formal sering disebut dengan TV (dibaca: tivi, teve ataupun tipi.)
FUNGSI TELEVISI
a.Sebagai Alat
Informasi
Kehadiran televisi menjadi sangat
penting sebagai sarana hubungan interaksi antara yang satu dengan yang lain
dalam berbagai hal yang menyangkut perbedaan, dan persamaan persepsi tentang
suatu isu yang terjadi di belahan dunia ini. Dalam hal ini, massa kemudian
menjadi objek dari sebuah liputan di televisi. Informasi berkaitan dengan massa
kemudian diolah dalam proses olah data audio visual sebagai paket dari
pengemasan informasi. Kemudian ditransmisikan melalui sebuah pancaran digital
yang diterima masyarakat sebagai sumber informasi.
Sebagai alat informasi, dari segi
keefektiffitasan televisi tergolong media yang paling banyak peminatnya
dibandingkan dengan media yang lain. Ada beberapa hal yang menjadi keunikan
televisi dibandingkan dengan media yang lain yaitu: televisi tidak membutuhkan
kemampuan membaca seperti media cetak, tidak seperti film, televisi adalah
gratis, tidak seperti radio, televisi mengombinasikan gambar dan suara, tidak
membutuhkan mobilitas, seperti pergi ke bioskop misalnya, satu-satunya medium
yang pernah diciptakan yang tidak memiliki batasan usia artinya orang dapat
menggunakan dalam tahun-tahun awal dan akhir dari kehidupan mereka, dan juga
tahun-tahun diantaranya.Inilah kelebihan televisi dibanding dengan media yang
lain.
Akan tetapi di dalam kelebihan itu
pula terletak kekurangan yang diakibatkan dari media televisi sebagai alat
informasi ini. Misalnya, menurunkan minat baca masyarakat, terbukti dengan
adanya televisi disamping harganya yang relativ murah masyarakat lebih suka
menonton televisi daripada membaca Koran ataupun browsing di internet; sebagai
alat informasi, televisi lebih banyak menyajikan program hiburan daripada
informasi atau pendidikan; televisi terkadang mencontohkan secara langsung hal-hal
yang berkaitan dengan kebudayaan yang terkadang berlawanan dengan kebudayaan
Indonesia, akhirnya stabilitas nasional pun semakin terancam.
b.
Sebagai Media Edukasi
Perkembangan zaman didunia
pendidikan yang terus berubah dengan signifikan, merubah pola pikir
pendidik, dari pola pikir yang awam dan kaku menjadi lebih modern. Hal tersebut
sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Jika dahulu orang
ingin mempelajari sebuah ilmu pengetahuan, seseorang akan mendatangi sang guru
dan menerima apa yang disampaikan oleh gurunya secara langsung. Berbeda dengan
konteks yang ada di jaman sekarang. Kehebatan media mampu mengambil alih peran
guru dalam dunia pendidikan. Hampir segala bidang terkait dengan keilmuan bisa
kita dapatkan dimana-mana melalui media, terlepas masalah penanggung jawab
keilmuan yang disampaikanya. Sehingga banyak upaya yang diusahakan dalam
peningkatan mutu pendidikan adalah pengembangan media pendidikan. Jadi, yang
dimaksud dengan media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan
dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan
siswa dalam proses pendidikan.
c. Sebagai
Kontrol Sosial
Dalam konteks televisi sebgai kontol
sosial, setidaknya televisi mempunyai sebuah fungsi sebagai gambaran kehidupan
sosial dalam suatu negara. Dalam hal ini maka televisi berperan sebagai minatur
sebuah negara. Melalui televisi itulah seseorang dapat mengetahui bagaimana
sebuah sistem kehidupan sosial itu diciptakan. Untuk lebih konkritnya, sebuah
kenyataan ini bisa kita lihat misalnya ketika kita membandingkan sebuah produk
film asli Indonesia dengan produk film yang diproduksi oleh negara lain, dari
situ kita bisa melihat perbedaan yang sangat menonjol. Faktor kemajuan sebuah
negara akan sangat terlihat dalam sebuah produksi perfileman. Contohnya saja
kita bisa membandingkan film yang hingga sekarang masih mendominasi kancah
layar kaca Indonesia adalah film yang berbau mistis, percintaan, hingga
pertikaian perebutan warisan. Hal ini akan sangat berbeda jika kita bandingkan
dengan produksi yang ada di negara yang lebih maju. India misalnya, sekitar
lima hingga sepuluh tahun yang lalu, hampir setiap film yang disajikan di India
ini mengangkat film yang bertemakan percintaan yang identik dengan tarian-tarian
khas masalnya. Tetapi di era saat ini, seiring dengan kemajuan teknologi yang
semakin pesat yang dialami oleh negara India, sekarang telah diproduksi film
yang lebih mengangkat kepada tema tekhnologi seperti film Ra One misalnya.
Itulah realita yang ada dalam layar kaca sebagai sebuah gambaran tentang
kondisi soasial sebuah negara.
Selain kita melihat dengan konteks
di atas, peran media dalam kaitan fungsinya sebagai kontrol sosial juga bisa
kita lihat dengan aspek yang lain. Sebagai media yang memungkinkan mudahnya
teraksesnya informasi, maka sangat memungkinkan adanya pertukaran informasi
antar masyarakat, etnis, ataupun segala macam kebudayaan. Sehingga secara
social masyarakat dapat saling memperhatikan satu sama lain demi terciptanya
stabilitas social dalam sebuah Negara. Bahkan seiring dengan teknologi pemancar
televisi yang semakin canggih hingga akses televisi seperti sekarang ini tak
hanya kita nikmati dalam skala nasional saja akan tetapi internasional. Denga
demikian, pertukaran informasi dalam lingkup internasional ini akan membawa
dampak yang penting bagi kelangsungan hubungan diplomasi antar negara. Sebagai
fungsi ini, peran televise tak dapat terelakkan. Misalnya adalah, ketika
terjadi sebuah bencana, maka secara spontan semua masyarakat akan tahu, bahkan
hal itu akan sangat memungkinkan untuk mendapatkan simpati dari Negara lain.
Tentunya melalui televise. Maka secara tanggap pula bantuan logistic untuk
daerah yang tertimpa musibah akan segera berdatangan dari negara-negara
tetangga misalnya.
Selain itu, apabila kia menelaah
lebih dalam, di dalam konteks ini kita mengetahui bahwa fungsi kontrol sosial
ini pun apabila kita sesuaikan dengan falsafah ideologi bangsa Indonesia yang
tertera pada Pancasila, maka fungsi ini sangat sesuai dengan sila ke-5 dari
pancasila yang berbunyi, “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Bagi
pemerintah, hal ini juga tak kalah pentingnya. Sebagai pihak yang mengurusi
kepentingan rakyat, maka sebagai pemerintah yang baik tak akan ketinggalan
informasi yang ada di negaranya. Kemudian secara tanggap tugas-tugas yang
seharusnya dilakukan oleh pemerintah dapat terkonsep dn terlaksana dengan baik.
Sebagai fungsi kontrol sosial ini pula maka akan tercipta sebuah transparasi
pemerintahan yang secara terbuka sejak era reformasi ini seluruh lapisan
masyarakat bisa mengetahui jalanya pemerintahan sehingga melalui media pula
kasus korupsi yang terjadi di Indonesia ini satu per satu semakin terungkap.
d. Fungsi
hiburan
Sekarang ini, Indonesia sedang dalam
era pancaroba, dimana ketika memasuki gerbang zaman globalisasi yaitu masa
dimana segala bidang kehidupan berada diambang tinggal landas seiring dengan
pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Hal ini tidak
mengecualikan kemajuan yang begitu pesat dalam berbagai bidang termasuk salah
satunya industri hiburan, apalagi hal ini salah satunya dipicu oleh ambisi
mengejar rating di hati masyarakat.
Tidak seperti zaman nenek moyang
dahulu, masyarakat kita sekarang ini disuguhi berbagai macam media hiburan dari
panggung hiburan hingga media yang lebih bersifat personal seperti televisi.
Jika jaman dahulu sebelum tiba masa trend televisi masyarakat lebih mencari
kegiatan hiburan secara langsung dengan pertunjukan misalnya seperti ketoprak,
wayang dan lain sebagainya, namun lain halnya dengan sekarang dimana masyarakat
lebih dimanjakan dengan media hiburan yang ada di televisi. Hadirnya televisi
di tengah hiruk pikuk kehidupan ini dapat membangkitkan gairah masyarakat mulai
dari perkotaan hingga pelosok-pelosok desa. Apalagi sekarang stasiun-stasiun
televisi swasta banyak bermunculan mewarnai layar kaca dengan suguhan-suguhan
yang lebih memanjakan pemirsa terutama dengan sajian hiburanya. Bahkan setiap
pengelolanya berebut “prime time “(waktu tayang terbaik) demi mendapat tempat
spesial di hati pemirsanya.
Memang hadirnya televisi pada sebuah
rumah tangga bukan menjadi kebutuhan mewah lagi. Hal ini terbukti bahwa yang
dulunya televisi hanya bisa dinikmati kaum elite saja, namun sekarang rakyat
jelata pun juga memiliki televisi. Jadi televisi merupakan media entertainment
yang sudah merakyat dan digandrungi berbagai kalangan. Fugsi media yang satu
ini, hampir semua masyarakat tahu bahwa televise berfungsi sebagai hiburan.
Kenyataan ini memang benar.bisa kita amati hamper di semua stasiun televise tak
ada yang meninggalkan sebuah program yang sifatnya hiburan. Bahkan sebuah acara
berita sebagai fungsi informasi saja sekarang telah banyak media yang membuat
konsep acara berita seperti komedi. Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia
lebih menikmati keberadaan media sebagai media hiburan dibandingkan dengan
fungsi yang lain.
3.
Karakteristik Media Televisi
1.
Audiovisual
Televisi memiliki kelebihan, yakni dapat didengar sekaligus dapat dilihat
(audiovisual). Jadi apabila khalayak radio siaran hanya mendengar kata- kata,
musik, dan efek suara, maka khalayak televisi dapat melihat gambaryang
bergerak.
2.
Berfikir dalam gambar
Pihak yang bertanggung jawab atas kelancaran acara televisi adalah pengarah
acara. Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses berpikir dalam gambar. Pertama
adalah visualisasi, dalam proses ini pengarah acara merangkai agar gambar
memiliki makna. Tahap kedua adalah penggambaran, yaitu merangkai gambar
sedemikian rupa sehingga mempunyai kontinuitas danmengandung makna tertentu.
3.
. Bersifat Tidak Langsung
Televisi adalah satu jenis dan bentuk media massa yang paling danggih
dilihat dari sisi teknologi yang digunakan, dan paling mahal dilihat dari segi
investasi yang ditanamkan. Televisi sangat bergantung pada kekuatan peralatan
elektronik yang sangat rumit. Inilah yang disebut media teknis. Sebagai contoh,
tanpa listrik, siaran televisi tak mungkin bisa diudarakan dan diterima pemirsa
di mana pun. Investasi yang harus ddikeluarkan untuk mendirikan erbuah stasiun
televisi komersial, yang dikelola secara professional dengan lingkup nasional,
mencapai ratusan miliar rupiah.
4. Bersifat
Satu Arah
Siaran televisi bersifat satu arah. Kita sebagai pemirsa hanya bisa
menerima berbagai program acara yang sudah dipersiapkan oleh pihgak pengelola
televisi. Kita tidak bisa menyela, melakukan interupsi saat itu agar suatu
acara disiarkan atau tidak disiarkan.
Menurut teori komunikasi massa, kita sebagai khalayak televisi bersifat
aktif dan selektif. Jadi meskipun siaran televisi bersifat satu arah, tidak
berarti kita pun menjadi pasif. Kita aktif mencari acara yang kiya inginkan.
Kita selektif untuk tidak menonton semua acara yang ditayangkan. Tetapi
kehadiran alat ini pun, tidak serta-merta mengurangi tingkat kecemasan
masyarakat, terutama kalangan pendidik, budayawan, dan agamawan.
5.
Bersifat Terbuka
Televisi ditujukan kepada masyarakat secara terbuka ke berbagai tempat yang
dapat dijangkau oleh daya pancar siarannya. Artinya, ketika siaran televisi mengudara,
tidak ada lagi apa yang disebut pembatasan letak geografis, usia biologis, dan
bahkan tingkatan akademis khalayak. Siapa pun dapat mengakses siaran televisi.
Di sini khalayak televisi bersifat anonym dan heterogen.
Karena bersifat terbuka, upaya yang dapat dilakukan para pengelola televisi
untuk mengurangi ekses yang timbul adalah mengatur jam tayang acara.
4. Konsep Televisi Pendidikan
Televisi pendidikan Indonesia ini di selenggarakan dengan dorongan semangat
dengan tujuan untuk:
1.Membantu mencerdaskan kehidupan bangsa,
2.Membantu
mewujudkan hak semua warga negara Indonesia untuk memperoleh pengajaran,
3.Mempunyai
misi untuk mewujudkan manusia – manusia pembangunan yang dapat membangun
dirinya sendiri serta bersama – sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
5. Media Video Pembelajaran
1. Pengertian Video
Video sebenarnya berasal dari bahasa
Latin, video-vidi-visum yang artinya melihat (mempunyai daya penglihatan);
dapat melihat. Video adalah: 1) bagian yang memancarkan gambar pada pesawat
televisi; 2) rekaman gambar hidup untuk ditayangkan pada pesawat televisi.
Senada dengan itu, video juga berarti sesuatu yang berkenaan dengan penerimaan
dan pemancaran gambar. Tidak jauh berbeda dengan dua definisi tersebut, video
merupakan “the storage of visuals and their display on television-type screen”
(penyimpanan/perekaman gambar dan penanyangannya pada layar televisi). Dari
beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa video itu berkenaan dengan
apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup (bergerak; motion), proses
perekamannya, dan penayangannya yang tentunya melibatkan teknologi.
Manfaat dan
karakteristik lain dari media video atau film dalam meningkatkan efektifitas
dan efesiensi proses pembelajaran, di antaranya adalah:
- Mengatasi jarak dan waktu
- Mampu menggambarkan peristiwa-peristiwa masa lalu secara realistis dalam waktu yang singkat.
- Dapat diulang-ulang bila perlu untuk menambah kejelasan
- Pesan yang disampaikannya cepat dan mudah diingat.
- Megembangkan pikiran dan pendapat para siswa
- Mengembangkan imajinasi
- Memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan penjelasan yang lebih realistic
- Mampu berperan sebagai storyteller yang dapat memancing kreativitas peserta didik dalam mengekspresikan gagasannya.
6. Pembuatan garis besar isi
Berita di media televisi dapat
disampaikan dalam berbagai format. Untuk menentukan format mana yang akan
dipilih, tergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor itu antara lain:
1. Ketersediaan
gambar. Jika gambar yang dimiliki sangat terbatas, reporter sulit
menulis naskah berita yang panjang. Maka berita dibuat dalam format lebih
singkat dan padat, atau dibuat dalam format tanpa gambar sama sekali.
2. Momen
terjadinya peristiwa atau perkembangan peristiwa yang akan diberitakan.
Perkembangan terkini dari suatu peristiwa baru sampai ke produser, ketika
siaran berita sedang berlangsung. Sedangkan perkembangan itu terlalu penting
untuk diabaikan. Jika ditunda terlalu lama, perkembangan terbaru pun menjadi
basi, atau stasiun TV lain (kompetitor) akan menayangkannya terlebih dahulu.
7. penulisan naskah media televise/ video
Ada perbedaan besar antara menulis
naskah berita untuk didengar (dengan telinga) dan menulis untuk dibaca (dengan
mata). Narasi berita televisi yang baik memiliki awal (pembuka), pertengahan,
dan akhir (penutup). Masing-masing bagian ini memiliki maksud tertentu.
1.
Awal (pembuka)
Setiap naskah berita membutuhkan
suatu pengait (hook) atau titik
awal, yang memberikan fokus yang jelas kepada pemirsa. Awal dari tulisan memberitahu
pemirsa tentang esensi atau pokok dari berita yang mau disampaikan. Hal ini
memberi suatu fokus dan alasan pada pemirsa untuk tertarik dan mau menyimak
berita yang akan disampaikan.
2.
Pertengahan
Karena semua rincian cerita tak bisa
dijejalkan di kalimat-kalimat pertama, cerita dikembangkan di bagian
pertengahan naskah. Bagian tengah ini memberi rincian dari Lead dan menjawab
hal-hal yang ingin diketahui oleh pemirsa. Untuk memudahkan pemirsa dalam
menangkap isi berita, sebaiknya kita membatasi diri pada dua atau tiga hal
penting saja di bagian tengah ini.
3.
Akhir (penutup)
Jangan akhiri naskah berita tanpa
kesimpulan. Rangkumlah dengan mengulang butir terpenting dari berita itu,
manfaatnya bagi pemirsa, atau perkembangan peristiwa yang diharapkan akan
terjadi.
Dalam Penulisan Berita di Media TV,
harus diperhatikan rumus 5 C, yaitu:
1. Conversational
Ketika menulis naskah berita untuk
media televisi, kita menulis untuk didengar. Ingat, televisi adalah media
audio-visual, bukan media cetak. Pemirsa kita melihat (gambar/visual) dan
mendengar (suara/audio), bukan membaca naskah berita seperti membaca koran.
Kelemahan media televisi adalah
berita yang ditayangkan di layar televisi umumnya hanya muncul satu kali. Jika
pemirsa tidak bisa menangkap isi berita pada tayangan pertama, ia tak punya
peluang untuk minta diulang. Kecuali mungkin untuk berita yang dianggap sangat
penting, sehingga dari waktu ke waktu selalu diulang dan perkembangannya
di-update oleh stasiun TV bersangkutan.
2.
Clear
Batasi kalimat untuk satu gagasan
saja. Hal ini akan memudahkan para pendengar untuk menangkap dan memahami isi
berita. Jangan menggunakan bahasa jargon atau slang, yang hanya dikenal kalangan tertentu. Hindari susunan
kalimat yang rumit.
3.
Concise
Gunakan kalimat-kalimat yang
bersifat pernyataan (deklaratif). Tulislah kalimat-kalimat yang pendek. Menurut
hasil riset, kalimat pendek lebih mudah dipahami dan lebih kuat, ketimbang
kalimat-kalimat panjang. Sebetulnya tidak ada aturan wajib tentang panjang
kalimat yang dibolehkan. Namun, cobalah membatasi agar setiap kalimat yang Anda
tulis tidak lebih dari 20 kata.
4.
Compelling
Tulislah dalam bentuk kalimat aktif.
Para penulis berita menggunakan kalimat aktif karena lebih kuat dan lebih menarik.
Selain itu, kalimat aktif juga lebih pendek daripada kalimat pasif.
5.
Cliché free
Kalimat atau pernyataan klise adalah
pernyataan yang sudah terlalu sering digunakan di media. Pernyataan klise
mungkin tidak akurat dan salah arah, namun harus diakui, banyak reporter merasa
sulit menghindari pernyataan klise seperti ini. Contoh kalimat klise untuk penutup berita: “Kasus itu
masih dalam penyelidikan.” Kalimat klise seperti ini bisa dibilang tidak
memberi informasi tambahan apapun kepada pemirsa. Maka, kalimat klise ini sebaiknya diganti dengan yang
lebih informatif. Misalnya: “Polisi sampai hari ini masih belum mengetahui
penyebab kecelakaan. Polisi mengharapkan, hasil penyidikan akan dapat
diungkapkan hari Jumat besok. Reportase Trans TV akan melaporkan perkembangan
ini besok untuk Anda.”
DAFTAR PUSTAKA
http://blognyadarminto100212minto.blogspot.co.id/2015/06/menguasai-pembelajaran-melalui-media.html,
Diakses Tanggal 18 APRIL 2016, PUKUL 1O:15 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar